MULTI TAFSIR NILAI STUNTING


_Ilmu hikmah_

Wayan Supadno



Janji politik yang belum realisasi dari Presiden Jokowi adalah prevalensi stunting 14% pada 2024. Walaupun sudah turun banyak dari 37,2% pada tahun 2014. Negara maju maksimal 5%. Batas toleransi WHO maksimal 20%.


Mau bersyukur sudah berubah banyak dari 37,2% tahun 2013, jadi 21,6% tahun 2023. Atau kita masih menganggap kinerja jelek kok belum 5% seperti negara maju. Tergantung sudut pandang politik kita. Ehm !


Yang pasti, stunting kerdil dan retardasi kecerdasan karena malnutrisi. Adalah salah satu indikator utama daya saing sebuah bangsa di masa depannya. Makin rendah prevalensinya, makin tinggi daya saingnya.


Konkretnya, jika saat ini selama 10 tahun berturut - turut prevalensi stunting di atas 20% maka saat tahun 2045, Indonesia Emas penduduk usia 20 sd 30 tahun minimal 20% setara 10 juta orang akan minim daya saingnya.


Gambaran lugasnya, manusia korban stunting pada fase balita adalah kerdil anatominya dan IQ nya rendah dibandingkan umumnya. Ibarat tanaman " terbonsai "  karena kurang asupan pupuk pada pot tanah tandus.


Jika diajak diskusi tidak cepat nyambung. Pada sebuah situasi diskusi dipimpin Leadernya, membahas seekor sapi, saat ditanya kepada korban stunting, jawabannya kambing. Apalagi berebut posisi strategis, tentu sulit kompetisinya.


Prevalensi stunting Indonesia terbanyak ke 2 di Asean setelah Timor Leste dan terbanyak ke 5 di Dunia. Data laporan Insider masyarakat Indonesia peringkat ke 11 terpendek di dunia, rata - rata tinggi badan hanya 158,17 cm.


Menurut World Population Review 2022, bahwa Kecerdasan Intektual Indonesia di ambang batas. Angka kecerdasan (IQ) rata - ratanya hanya 78,49. Terendah di Asia Tengggara dan peringkat ke 130 dari  199 negara yang diteliti. Padahal sangat penting dalam percepatan mengatasi kesulitan hidupnya.


Sebab stunting, apapun alasannya yang berakibat malnutrisi kurang gizi utamanya " protein hewani " jangka panjang (kronis). Sejak janin hingga 5 tahun pertama. Kurang edukasi publik, terutama saat menikah, misalnya.


Ibaratnya, kita jadi peternak sapi. Jika kadar proteinnya sangat rendah maka sapi kita akan " kurus dan kerdil ". Apalagi fase janin, rearing hingga fattening. Sekalipun diberi pakan banyak kalori, jika tanpa protein cukup, akan sangat kerdil.


Solusinya ?


Membangun kesadaran perorangan dan keluarga. Selain peningkatan daya beli. Meniadakan pengangguran dan kemiskinan. Agar mampu mengakses pangan bermutu bagi keluarganya. Pangan harus bermutu dan murah.


Empiris saya, karena harga sapi di Prov. Kalimantan Tengah mahal dampak dari sapi sulit masuk untuk ternak breeding. Maka saya mengembangkan protein hewani alternatif ikan patin kaya Omega 3 sangat baik untuk pertumbuhan otak. Harganya 20% dari daging sapi.


Harapannya akan cipta lapangan kerja untuk masyarakat. Sehingga punya pendapatan dan daya beli yang baik. Ekonomi masyarakat terdekat dengan usaha ikut bergerak dinamis. Harga protein hewani murah meriah terjangkau dan terjadi proses transfer iptek ke masyarakat.



Salam Inovasi 🇮🇩

Wayan Supadno

Pak Tani

HP 081586589630


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Matinya Demokrasi Kampus Universitas Prof.Dr.Moestopo (Beragama)

Bantu Kesulitan Warga, Kodim 0618/Kota Bandung Hadir Melalui Pemeriksaaan Kesehatan ( Tensi Gratis) di Lapangan Gasibu

P3HPI Harapkan Perpajakan Berbiaya Murah dalam Mencari Keadilan dalam bidang Perpajakan.